Powered by Blogger.
RSS

Fiksi: Cintaku Mentok Di Jembatan Layang


Aku masih termangu menanti balasan pesan dari Indit—sahabat karibku. Sudah lima belas menit berlalu sejak pesan terahir ku kirimkan kepadanya. Tega sekali sahabat-sabatku itu meninggalkan aku sendiri di malam yang seharusnya penuh keriangan ini. Ah! Benar juga. Ini semua memang salahku. Andai saja aku lebih memilih ikut mereka ke Bali dari pada mengikuti rencana liburan keluargaku yang gagal dengan sukses karena ayah tiba-tiba harus mengurus pekerjaannya. Ya, ini semua salahku. Aaa! Jika saja aku memilih ke Bali bersama Indit dan yang lainnya, sekarang ini pasti aku sedang berada di bawah pancaran bintang yang terbuka lepas di angkasa. Menikmati terpaan angin yang membawa serta ombak berdendang memecah kesunyian. Menikmati malam pergantian tahun bersama empat sahabatku yang lain. Tia, Rahma, Echa dan Indit. Mereka pasti sedang bersenang-senang mala mini. Ditemani musik, orang-orang, cahaya khas pesta di pinggir pantai dan juga keringat yang memburu penuh semangat.

Andai saja ayah tidak ada pekerjaan dadakan, pasti malam ini aku sedang membakar ayam di atas panggangan barbeque ditemani bunda, kak Raihan dan tentunya ayah. Kak Raihan sedang memainkan gitarnya, ibu bernyanyi dan ayah pasti sedang membantuku menyiapkan makanan. Ah! Kami pasti sedang menikmati semilir angin malam di Kota Malang.
Dan sekarang, kenyataannya adalah aku seorang diri berada di ruangan ini. Bahkan angin pun tak sudi menghampiriku kendati jendela kamarku telah ku buka lebar-lebar. Baiklah Raisya, mari bunuh rasa bosan ini!
Aku beranjak ke meja belajarku. Ku buka benda persegi panjang berwarna merah yang tergeletak tak bernyawa di depanku. Ku tekan tombol power dan beberapa detik kemudian kudapati layarku telah menampakkan tampilan desktopnya. Sebuah benda yang belakangan diketahui bernama modem pun segera ku sambar dan kemudian ku colokkan di port USB. Ku tekan touchpad begitu pointer telah berada tepat di atas tombol connect. Aku buka browserku. Di tab pertama aku ketikkan situs jejaring social andalanku, facebook. Dengan lincahnya tanganku segera mengetikkan username dan password milikku. Di tab kedua aku membuka twitter. Dan di tab ketiga… ah! Semuanya tetap saja terasa hambar.
Dengan gerakan gontai aku langsung menutup layar laptopku dan berjalan menghampiri lemari yang sedang berdiri manis.
“Hai lemari. Kamu nggak tahun baruan?” sapaku pada lemari. Ah! Benar juga, dia kan makhluk tak bernyawa.
Oh Tuhan! Apakah aku mulai gila karena berbicara kepada seonggok lemari? Aku membuka salah satu pintu lemari dan segera mengambil tas mungil ku. Dompet, handphone, novel, tisu semua kumasukkan kedalamnya. Kamera dslr kebesaranku pun tak lupa culik dari tasnya. Aku melangkah keluar kamar, menyusuri tangga dan berakhir di ruang tamu. Aku mengambil kunci motor yang ada di laci lemari.
Suasana di rumah ini begitu sepi. Menyedihkan. Sangat. Ibuku sedang keluar bersama—siapa lagi kalau bukan bersama tante-tante arisan genit itu. Kak Raihan, dia sedang berada di rumahnya untuk pesta bakar-bakar ayam dan jagung. Aku berharap dia tidak membakar rumah temannya itu sebagai media pelampiasan kekecewaannya karena gagal berlibur ke Malang. Terakhir aku melihatnya—tadi sore, dia masih menampakkan muka lusuhnya seperti cucian tidak kering berhari-hari. Bahkan dia hampir saja melahapku dengan sekali terkaman saat aku menggodanya.
Aku memanasi motor ku yang masih tersandar di teras. Tak lupa ku kunci pintu rumah kemudian menghampiri pintu pagar. Deg! Pintu pagar tidak dikunci? Dasar bunda, teledor sekali dia! Pintu pagar telah terbuka, aku segera menghampiri kembali motor matic andalanku. Aku menuntunnya keluar dengan penuh kasih sayang layaknya seorang bunda yang menggandeng anaknya keluar dari Taman Kanak-Kanak. Motorku kini telah berada di luar pagar. Ku katupkan kembali pintu pagarku dan kugembok. Haha! Sekarang kau tidak bisa kabur kemana-mana, wahai rumah!
Aku memacu motorku keluar komplek perumahan. Rumah-rumah yang biasanya ramai suara anak kecil, malam ini sepi. Memang seperti sudah menjadi budaya di komplek perumahanku jika malam tahun baru pasti dilewatkan oleh keluarga-keluarga disini untuk berlibur keluar rumah seperti ke mall, ke pusat kota atau pusat keramaian lainnya.
Aku sudah berada di jalan raya dekat pintu masuk perumahanku. Tapi aku masih bingung harus berbuat apa dan kemana. Aku putus asa. Aku menundukkan pandanganku. Oh my god! Dileherku telah terkalung sebuah kamera dslr. Kenapa aku harus bingung? Ya! Malam ini aku akan berburu foto. Pasti banyak momen keren yang bisa ku ambil. Aku berhenti di pinggir jalan. Aku mulai membidik lampu-lampu jalanan yang berjajar rapih di separator jalan. Meskipun aku tidak bisa berjajar pas dengan deretan lampu-lampu itu, tapi di posisi ini tidak kalah bagus kok angle nya. Aku mengamati rumput yang terinjak oleh ku. Pasti bagus jika rumput ini dijadikan objek utama dengan latar belakang jalanan beserta dengan lampu-lampu yang berjajar.
Aku menelungkupkan tubuhku dan mulai memposisikan kameraku sedemikian rupa hingga rumput pun terbidik dengan latar belakar lampu-lampu jalanan yang bokeh. Oya, bokeh sendiri adalah istilah untuk foto yang mempunyai latar belakang blur.
Baiklah cukup. Akan lebih banyak lagi foto dengan angle dan momen yang keren lainnya hingga tengah malam nanti. Aku melihat jam yang melilit erat tanganku. Baru jam setengah Sembilan. Oke, ayo pergi ke keramaian! Yoo! Semangat!!!
Ku pacu motorku hingga angin pun serasa menjambaki rambutku. Helm yang tertancap di kepalaku pun serasa ingin copot. Semakin kencang, semakin kencang dan akhirnya jalan yang agak sepi ini membuatku merasa berada di arena balap Sentul, Bogor. Aku telah melewati batas Kota Bekasi dan kini aku berhasil mendaratkan ban motorku di kota Jakarta. aku berbelok mengikuti alur jalan. Aku melewati R.S. Pondok Kopi dan berhasil berhenti di samping jalan layang Pondok Kopi. Disini arus kendaraan terlihat sedikit ramai dibandingkan jalanan yang kulewati tadi.
Mataku menggeliat lincah mencari angle dan obyek yang bagus untuk jepretan kamera ku. Cahaya samar yang menyinari penumpang yang turun dari metro mini 506 pun menarik perhatianku. Aku mulai mengarahkan kameraku ke orang-orang yang naik dan turun itu. Angle yang keren sekali ini, seorang ibu yang sedang menggendong anaknya turun dari metro mini. Disirami cahaya samar dan lembut dari lampu jalanan yang berada sekitar 100 meter di belakangnya. Lalu di tengah jalan, tersaji seorang pedagang asongan yang sedang menyeberang jalan sambil mengelap peluh dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Cahaya ini begitu indah untuk foto bergenre social seperti ini. paling tidak itu menurutku.
Lelah menegakkan lenganku untuk menopang kamera, akupun duduk dan memesan kopi di kedai berjalan alias gerobak minuman yang terparkir di trotoar, tepat di sampingku. Ku periksa satu persatu gambar hasil jepretanku tadi, hingga aku menemukan foto yang sangat ku rindukan. Disana ayah berpose dengan wajah cerianya, ibu memamerkan senyum terindahnya, kak Raihan yang sedang memperlihatkan kawat gigi baru nya dan aku… Aku berada di tengah-tengah mereka. Aku jadi rindu masa-masa yang seperti ini. Sekarang ayah selalu sibuk dengan bisnisnya hingga tak jarang sering pulang larut. Sedangkan bunda, dia bukanlah tipikal ibu yang betah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk bercanda bersama anak-anaknya. Meskipun tidak bekerja tapi hampir setiap hari dia pergi ke rumah teman-teman arisannya. Meski begitu bunda ku itu bukanlah bunda yang jahat dan apatis dengan keluarganya. Dia tetap memeriksa keadaaan anak-anaknya dengan selalu menelponku maupun kak Raihan lebih dari sekali sehari. Dan hari ini saja, selama dia pergi sejak siang tadi dia telah menelponku dua kali. 
Huh! Hanya kak Raihan yang tidak berubah. Dia tetap menjadi Raihan yang dulu. Sering menemaniku dan sangat sayang juga baik hati padaku. Tapi itu semua berlaku saat hormon kejahilannya sedang tidak berproduksi. Kalau sedang berproduksi dan sedang puncak-puncaknya, dia bahkan lebih jahil dari host acara di tv yang sangat senang menjahili targetnya. Sudah ah, aku khawatir nanti kak Raihan tersedak tulang ayam bakar jika aku terus-terusan membicarakannya. Hihihi…
Aku menyeruput kopi yang kupesan. Ibu-ibu paruh baya yang menjual kopi ini begitu ramah. Dia tak segan melemparkan senyum terindahnya padaku yang jelas-jelas belum dia kenal. Aku khawatir dia juga akan melemparkan gerobaknya kepadaku sebagai wujud keramahannya. Seorang lelaki paruh baya bertampang sangar mendekat ke gerobaknya dan meminta satu kopi hitam hangat. Nada bicaranya kasar dan kental dengan logat batak. Nyaliku pun sempat dibuatnya ciut hanya dengan suara lantangnya. Aku mengalihkan pandangan ke motorku.
“Bah, sendiri saja kau neng.” kata bapak paruh baya itu memecah lamunanku. Aku menghadapkan muka ke arahnya dan ternyata benar dia berbicara denganku.
“Iya nih pak.” Jawabku singkat disertai dengan senyuman ala duta lingkungan.
“Daripada kau bosan lontag-lantung ngga jelas, kau putar-putar saja ke Kampung Melayu dengan Metro Mini.” Kata bapak itu seraya menunjuk bus orange lusuh yang baru saja lewat.
“Tuh saya bawa motor kok pak.” Jawabku. Bapak itu menyusulku duduk di trotoar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi sambil menyesap kopinya. Dari samping sini, angle yang ku dapat begitu indah.
“Pak, saya foto ya?” kataku kepada si bapak yang sedang asik menyesap kopinya sambil membidikkan kamera ku.
“Alamajang… Mau kau jadikan artis bapak ini?” kata bapak itu dengan senyum yang mengembang dan disusul tawa yang memecah.
“Bukan pak… ya, difoto aja. Angle nya bagus nih, coba lihat…” kataku sambil memperlihatkan layar kamera yang berisi hasil jepretanku di tempat ini.
“Wah, boleh boleh… Harus gaya apa bapak ini? begini? Ha? Ha? Atau begini?” serunya sambil memperlihatkan lengan tangannya yang sama sekali tidak nampak otot kekar.
“Boleh, tapi nanti coba biasa aja. Bapak ngobrol, minum kopi. Nanti saya jepret-jepret gitu pak. Baru deh nanti keluar di majalah Trubus.”
            Bapak itu tertawa lepas. Di susul dengan tawa ibu penjual kopi yang sedari tadi sibuk mengawasi kami berbincang.
“Macam kau kira aku tak tau majalah Trubus? Majalah tanaman kan? Kau ini kurang ajar. Hahaha” katanya sambil memukul lembut lenganku. Kami tertawa lepas, selepas hamparan pantai.
            Hunting foto di lokasi ini pun aku sudahi. Aku telah mengambil begitu banyak foto. Ku habiskan kopi susu yang masih tersisa setengah gelas. Aku menyeruputnya dengan perlahan karena lidahku sangat sensitif dengan suhu hangat.
“Pak, saya cabut dulu ya.” Kataku begitu kopi telah pada tetes terakhir.
“Bah, mau kemana pula kau ini? masih sore pula.”
“Mau muter-muter lagi pak.” Kataku sambil berdiri menghampiri motor.
“Iyalah sana. Masih muda jangan kau galau-galau macam di tipi-tipi itu.” Tawa bapak itu kembali menggema. Aku menyusulnya dengan sunggingan lebar yang terlukis di bibirku.
            Aku menyalakan motor dan langsung memacunya. Baiklah, kali ini aku tidak akan bisa ngebut lagi lantaran jalanan kini tak ubahnya lautan sorot lampu kendaraan. Tak mau kalah dengan keadaan lain, akupun menyelip dari satu mobil ke mobil yang lain. Kini aku hanya berpacu dengan motor-motor yang sepertinya satu tujuan denganku. Aku terus menyusuri jalan I Gusti Ngurah Rai menuju jempatan layang buaran hingga akhirnya aku sampai pada simpangan mall Buaran. Aku berbelok ke kiri. Dengan perlahan ku posisikan motorku hingga aku bisa langsung berbelok di belokan pertama menuju puncak jembatan. Aku teringat pada tweet salah seorang motivator yang berbunyi: “Jika ingin berada di puncak kau harus berani bersaing dengan orang yang punya mimpi yang sama yaitu ke Puncak itu.” Tak ubahnya dengan pepatah itu, sekarang akupun sedang bersaing dengan kendaraan—motor lain yang ingin berbelok menuju jembatan layang.
            Aku mengekor di belakang mobil Innova hitam. Dan akhirnya aku berbelok namun yaahh harus bersabar untuk mencapai puncak. Aku kembali mengasah kemampuan menyelipku hingga aku berada benar-benar di jalan layang namun belum di puncaknya. Aku pikir tidak perlu sampai benar-benar di puncaknya. Pasti trotoar disana juga sudah dipenuhi pengunjung lain yang sudah menempatinya lebih awal dariku. Nasib baik aku kali ini. aku melihat trotoar yang belum terlalu sesak oleh motor maupun orang, beberapa meter di depanku. Aku menyegerakan laju motorku.
            Sekarang motorku telah terparkir di sisi trotoar. Lagi-lagi aku berada dekat dengan pedagang minuman. Baiklah, malam ini mari kita berpesta kopi susu hingga mabuk. Hahaha, celotehku dalam hati. Aku melepas helmku dan menyingkir dari motor. Ku edarkan pandanganku ke sekitar. Cahaya dari lampu jalanan bersinar  begitu lembut, ditambah lagi  dengan sorot-sorot lampu dari kendaraan yang melintasi kemacetan di atas jembatan ini. aku mulai mengangkat kamera ku dan membidikannya ke sekitar untuk mencari angle foto yang bagus. Di seberang sisi jembatan ada seorang anak umur dua tahunan yang di gendong di leher ayahnya. Aku memperbesar gambar di kameraku hingga ku dapatkan detail keren dari ekspresi anak itu. Ayahnya menunjuk ke langit barat—ke kembang api yang menyala indah. Aku segera menekan tombol shoot.
            Hatiku berdesir sesekali. Tahun-tahun lalu aku juga menghabiskan malam tahun baruku di jembatan ini karena orang-orang di rumah begitu sibuk dengan acara tahun barunya sendiri-sendiri. Haahh, mengenaskan! Begitulah hidupku. Menghabiskan malam tahun baru tiga tahun berturut-turut sendirian di jembatan ini. jangan-jangan ini memang seperti kutukan bagiku.
            Aku mengedarkan kamera ku mengikuti jalur trotoar jembatan di depanku. Disana ada berbagai ekspresi yang bagus untuk  di abadikan. Ada seorang  gadis—sepertinya sepantaran dengan ku, yang sedang bergurau dengan pacarnya yang ada di sebelahnya, duduk di atas motor. Aku membalik badanku ke belakang. Di sana ada bapak-bapak yang sedang sibuk menyiapkan segelas susu jahe untuk pelanggan yang berdiri menghadapnya. Agak jauh di sebelah utara, ada seseorang sedang berjalan. Posturnya tinggi dengan kulit putih yang membalut wajahnya. Dia memakai jaket berbahan denimn berwarna hitam dan celana denimn kebiru-biruan. Semakin lama dia terlihat semakin besar padahal aku tidak memutar settingan zoom kamera ku.
            Hidungnya begitu mancung—tak seperti milikku, bibirnya mengguratkan senyuman tipis yang semakin melebar. Objek itu semakin mendekat dan tak kusadari ternyata pupil matanya tepat mengarah ke mataku yang sedang mengintip di balik lensa kamera. Senyumnya semakin lebar sejurus dengan tubuhnya yang berpose dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk formasi peace yang khas di setiap pose fotonya. Rama. Apa? Rama???
            Aku menyingkirkan kamera yang sedari tadi menempel di mata sebelah kananku. Serasa tidak percaya, lantas aku mengusap-usap mataku.
“Hey Sya.” Katanya sambil melampaikan tangan kanannya dengan cepat. Astaga! Itu benar-benar Rama.
Aku begitu gugup kali ini. betapa tidak? Dia adalah Rama, teman dekatku yang sekarang tinggal jauh dariku. Dialah alasanku begitu bersemangat pergi ke Malang. Aku ingin berbincang banyak dengannya saat aku di Malang. Ini seperti dongeng saja. Aku gagal ke Malang untuk menemuinya tapi tiba-tiba tanpa di duga-duga dia muncul di depan mata kepala ku.
“Hellow Raisha…” katanya sambil menjentikkan jari tangannya di depan wajah ku.
“Eh Ram, kamu ke Bekasi?” kataku gugup. Entah kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini.
“Iya, ayah lagi nggak enak badan jadi aku yang ke Bekasi deh.”
“Kamu nggak berubah ya, masih suka aja kemana-mana bawa kamera.” Sambungnya dengan disusul senyum yang menentramkan. Aku membalasnya dengan senyuman.
“Kamu itu ya, pergi tengah malem pake motor bukannya bawa jaket atau baju tebal kek. Ini malah cuman make baju piyama panjang. Raisya, ini tuh tahun baru. Masa kamu kamu pake baju piyama ke sini. Kamu tuh ya, dari dulu nggak pernah berubah. Tetep jadi Raisya yang nyentrik.” Cibirnya panjang lebar sambil mencubit lenganku.
“Aw, sakit tau.” Cubitannya memang tidak berubah, tetap sakit seperti dulu. Kulihat dia melepas jaketnya dan menyampirkannya ke kedua bahu ku.
“Nih pake biar nggak masuk angin.”
“Nggak usah Ram, udah biasa.” Kataku sambil melepas jaketnya. Memang benar aku sudah terbiasa dengan kedinginan kok Ram. Entah itu kedinginan udara maupun kedinginan hati. Huahaha. Putis sedikit tidak apa dong.
“Pokoknya harus kamu pake. Oh iya, kamu kan hobi foto. Tuh di bawah sana ada panggung band kecil-kecilan. Kesana yuk?” ajaknya sambil menunjuk ke arah bawah jembatan. Dia kembali memakaikan jaketnya ke bahu ku. Itulah Rama, kalau ada kemauan harus dituruti. Walaupun menolak pasti akan percuma saja hasilnya.
“Boleh. Tapi motorku gimana Ram?” kataku sambil menyorotkan pandangan ke kuda besiku yang terparkir di belakangku.
“Taruh aja disini. Sebentar doang kok. Asalkan kamu gembok dulu.”
“Oke deh, bentar ya aku gembok dulu.”
            Aku langsung saja membuka bagasiku dan mengambil gembok. Begitu gembok telah terpasang di rem depanku, aku langsung berjalan menuju panggung yang dimaksud Rama tadi. Rama membetulkan posisi jaket denimn hitamnya yang kini membalut bahu ku.
            Kami berjalan menyusuri penjual minuman, kacang dan juga motor-motor yang berjajar di bahu jalan. Rama hanya diam saja. Tumben sekali, biasanya dia yang lebih cerewet dariku setiap kita bertemu. Ah, keadaan ini semakin membuatku kikuk. Seperti ada yang aneh dengan Rama. Rama, ayo ngomong dong... jangan buat aku salah tingkah gini. Kataku dalam hati. 
            Oh God! Kali ini aku benar-benar kikuk, bahkan aku lupa bagaimana cara jalan ku. Apa seperti ini? ah tidak, itu terlalu girly dan kemayu. Begini? Ah itu malah seperti jalannya lelaki. Aduuh, gimana ini. Seperti ini? Oh tidak, itu malah seperti jalannya waria. Yasudah Raisya, jalan saja sesukamu. Baik. Tapi, bagaimana dengan posisi tanganku saat aku berjalan seperti biasanya? Seperti ini? ah tidak, itu terlalu berlebihan. Apa seperti ini? tidak juga! Itu malah terlalu kaku seperti robot. Ah, masa bodoh dengan itu semua. Semoga dia tidak menyadari semua tingkah ku yang serba salah ini.
“Raisya…” ahh, akhirnya dia mulai berbicara juga. Tapi, apa ini? Kenapa pupil matanya tepat menembak inti mataku?
            Kami berhenti sejenak. Tapi di belakang kami terdengar banyak klakson motor yang mengisyaratkan agar kami tidak berhenti di tempat itu. Rama segera menarikku ke trotoar yang—yaah lumayan ramai orang juga.
“Raisya aku suka sama kamu.” Katanya dengan sangat cepat nyaris aku tidak bisa mencerna. Tangan kirinya menggenggam tangan kananku erat. Aku segera berpaling ke kanan—melihatnya. Pandangannya menunduk. Meski begitu karena tubuhnya lebih tinggi dariku, aku dapat melihat dia benar-benar menutup rapat kedua matanya. Aku masih tidak dapat percaya dengan apa yang aku dengar tadi. Aku mengedip-kedipkan mataku, untuk memastikan bahwa ini bukan ilusi semata.
“Raisya, kamu mau nggak jadi pacarku? Menjadi seseorang yang akan setia menungguku pulang ke Bekasi?” kali ini suaranya lirih dengan mata yang menatapku tajam.
            Aku bingung meskipun sedikit senang. Kata-katanya yang baru saja itu mengingatkanku kalau aku adalah jomblo. Dan aku lupa kapan terakhir kali aku pacaran.
“Sya, jawab… Kamu mau nggak?” tatapannya semakin tajam.
“Iya Ram.” Kataku dengan sangat cepat. Sumpah demi apapun aku sangat malu. Aku langsung memalingkan muka kea rah kiri.
“Lho Sya, nggak usah malu gitu kali.”
Ha? Apa? Kok Rama bisa tahu, jangan-jangan dia keturunan paranormal lagi. Hii…
“Kok kamu tahu Ram?”
“Tuh, muka kamu merah banget.” Dia lalu tertawa.
“Emang keliatan ya? Ihh nyebelin kamu Ram.” Kataku sambil memukul lengannya.
“Kok Ram sih? Kan kita udah pacaran, panggil sayang dong…” rajuknya.
“Ih apaan sih.” Aku mengernyit yang kemudian ku bubuhi dengan sunggingan senyum kecil.
“Iya sayang…” aaaaa??? Apa? Apa yang baru saja aku katakan? Aaaa tidaaakk!!! Badanku serasa terbakar saat aku mengatakannya. Tapi aku harus tenang. Oke… tenang…
“Nggak usah maksain gitu kalo belum siap.” dia mengusap bahu kiriku. Rasanya begitu hangat…
“Hahaha, aku cuma nggak terbiasa aja.”
“Nanti juga biasa.” Dia tersenyum teduh. “But, I just want to love you in 3 times.” Sambungnya. Hal yang satu ini membuatnya terkejut. 3 times? What does it mean? Pacaran kontrak gitu??? Ahh! Maksud sebenernya apaa??? Bahasa Inggrisku begitu jeblok! Aishh! Baru kali ini dalam hidupku menyesal gara-gara aku sering bolos di pelajaran tambahan Bahasa Inggris.
“Maksudnya?” dahiku berkerut.
“I want to love you in 3 times. Today, tomorrow and forever.” Dia memandangku lekat. Senyumnya mengembang lebar.
“Dasar…!” aku mendorongnya lembut. “Ayo ke panggung yang kamu bilang itu.” Sambungku.
“Iya ayo sayang.” Lagi-lagi senyumnya meneduhkan hati ku. Kata "sayang" yang dia ucapkan juga tak kalah meneduhkan. Aaaa! Senang sekali mendengarnya memanggilku "sayang".
             Kami berjalan menyusuri bahu jalan menuju ke panggung kecil yang ada beberapa meter di depan kami. Musik mengalun begitu kencang. Bahuku terasa begitu hangat dengan balutan jaketnya. Begitupun dengan hatiku. Terima kasih Tuhan, malam ini aku tidak akan sendiri lagi seperti malam-malam tahun baru sebelumnya. Meskipun acara berkumpul dengan keluarga ku di malam tahun baru selalu gagal, tapi aku sangat bahagia dengan kado terindah ini. Aku yang selalu mengakhiri malam pergantian tahun dengan kesedihan dan rasa kesepian. begitu juga dengan akhir tahunnya. Mulai tahun ini nasibku pun akan berubah.
God, aku tidak perlu datang jauh-jauh ke Malang untuk menjemput momen ini, secara ajaib tiba-tiba dia datang ke jembatan layang ini untuk menyatakan cintanya. Apa ini yang dinamakan keajaiban cinta? Oh thanks God, I’ll keep this lil’ miracle.


Karya: Irma Oma Eka

Peringatan: segala bentuk kesamaan nama, tokoh dan alur cerita dalam cerpen ini hanya kebetulan belaka. Jika ingin mengcopy-paste postingan ini, mohon cantumkan nama pengarang dan link blog ini. Terima kasih atas kunjungannya... :)


source gambar: tempatku-wisata.blogspot.com

Salama: Detective-103

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 comments:

Arman Zega said...

ahh, sedap endingnya. semoga mereka langgeng terus.
jodoh pasti bertemu

Unknown said...

hahay sedap gan. suka yang happy ending yak...

Post a Comment