Powered by Blogger.
RSS

Mimpi dan Kenyataan Hidup

Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Tapi yang pasti, aku sudah tak sanggup menahannya sendirian. Aku ingin meluapkannya pada sahabat-sahabatku. Tapi nampaknya ingin terlalu personal untuk diceritakan, lagipula sahabat2ku sedang berada di masa kegamangan menuju masa kedewasaan juga--sama sepertiku. So, aku tidak ingin menambah kegamangan hidup sahabat-sahabatku dengan cerita yang absurd tentang hidupku ini. Karena pikirku, setiap cerita membunya jiwa, yang dapat mempengaruhi afeksi seseorang yang mendengarnya.

Sama seperti remaja lainnya, akupun punya mimpi. Menjadi 'seseorang', yang bisa bekerja sesuai dengan bidang yang kuingini. Bidang yang menjadi jiwa (semangat) dalamku menjalani hidup. Dan sayangnya mimpiku itu mengharuskanku mengenyam bangku kuliahan. Menjadi seorang konselor, tentu saja harus punya sertifikat, dan sayangnya untuk mendapatkan sertifikat izin tersebut harus ambil S2. HAHAHA, nampaknya mimpi itu terlalu tinggi buatku. Jangankan S2,
S1 saja entah dapat kujalani atau tidak. HAHAHA, siapasih aku ini, hanya anak seorang tukang ojek dan seorang kuli cuci. Aku tahu persis berapa gaji bapak dan ibuku.

Beasiswa??? Ya, dulu tepat setelah aku lulus, aku mendapat tawaran beasiswa. Satu dari teman masa kecil bapakku yang sudah jadi dosen, dan satu lagi tawaran beasiswa dari link sekolah. Kenapa tidak diambil? Iya, kenapa ya? waktu itu aku berpikir meskipun beasiswa full, diawal2 kuliah pasti dibutuhkan dana ini-itu. untuk ongkos bolak-balik ngurusin beasiswa, buku-buku di awal perkuliahan, atau mungkin biaya formulir. Waktu itu orangtuaku tepat sekali sedang dalam masa sulit, sulit dalam keuangan (atau kami biasa menyebutnya dengan 'masa kemarau duit'). Sama sekali tidak ada tabungan. Gaji ibuku pas untuk biaya kontrakan, cicilan motor, dan cicilan untuk bayar buku2 sekolah masih menunggak. Yaah, apa boleh buat. Sebisa mungkin aku tetap berusaha 'it's okay mom. Tahun depan nantibisa nyari beasiswa juga kok. Atau enggak ntar kuliah biaya sendiri."

Dan bagaimana dengan tahun ini? Beasiswa? Yayaya, aku pasti bisa. Tapi apa aku bisa seegois itu, membiarkan orang tuaku jungkir balik biayain hidup harian ku dan adikku nantinya? Saat aku masuk kuliah, setahun kemudian adikku juga masuk SMA(atau SMK). Tentu uang foto kopi, ngeprint, buat laporan dsb, itu buanyak meskipun baru SMA. Yaah, gabeda lah sama waktu aku SMK, dimana biaya ini itu buanyak bingits... Tapi kata ibuku, "Yaudah jalanin aja, ntar juga bisa sambil jalan." dan dibalik kata2nya yang mendamaikan hati itu, aku dapat melihat raut keraguan dalam kata-kata ataupun dalam wajahnya. Yayaya, aku selalu bisa melihat mikro ekspresi keraguan saat bapak atau ibuku berbicara. Apalagi tentang rencana kuliahku. Sekeras apapun mereka coba sembunyikan, ntah kenapa aku dapat melihatnya. Dan itulah yang menyiksaku hingga saat ini setiap kali aku memikirkan tentang rencana kuliahku. Ini sudah akhir tahun, dan aku belum punya tabungan. Well, selama kerja 3 bulan kemarin sih ibuku sudah menabungkan hampir seluruh gajiku yang nggak seberapa untuk rencana kuliah. Tapi apa dikata, tabungan itu harus dipakai untuk perbaikan motor bapak. Harus rela sih, soalnya mau makan apa kalau motor untuk cari makan itu tidak bisa dipakai???

Semua hal itu mengingatkanku pada bapakku. Masa mudanya yang penuh dengan liku duka. Haruskah aku menyerahkan MIMPI-MIMPIku pada kehidupan ini, persis seperti yang dilakukan bapakku? Apa mungkin nasibku, akan mengulang bapakku?

Saat itu, dia adalah seorang pemuda yang cerdas. Dia punya mimpi menjadi seorang TNI. Dia bekerja susah payah untuk melanjutkan sekolah demi mimpinya itu. Dia sudah hampir menggapai mimpinya itu, dia sudah mendaftar di sekolah TNI. Tapi apa daya, ibunya adalah seorang petani yang juga seorang single mother. 2 adik bapakku masih kecil waktu itu. Dan, dengan berat hati, dia harus menyerahkan mimpinya pada kehidupan yang kejam. Dia memutuskan untuk bekerja demi menghidupi dua adiknya yang keduanya adalah perempuan. Memilikan memang. Aku tahu, dia tidak ingin aku mengulang nasibnya dimasa mudanya. Tapi dia juga tahu, seperti apa kehidupan kami sekarang... 

"Cari uang udah susah, orang-orang kaya ngojek masih suka diutang pulak." ya, itu yang selalu dikeluhkannya. Akupun tak habis pikir dengan orang-orang kaya itu. Aku bertanya-tanya bagaimana isi kepalanya orang-orang kaya yang berpendidikan tinggi, yang kerjanya di kawasan perkantoran yang elit. Apa mereka tidak pernah berpikir bahwa di rumah tukang ojek langganannya itu ada perut-perut lapar yang harus dikasih makan, dan ada buku-buku sekolah anak si tukang ojek yang perlu dibayar? Mereka sih setelah sampe di kantornya atau di tempat tujuan bilangnya "Uangnya nanti ya bang, sekalian" tapi apa nyatanya. Bapak hanya mendapat janji kosong. Berhari--hari kemudian tak ada kejelasan dari orang-orang kaya yang suka ngutang ojek itu. Guess what? Yang dikata ibuku saat bapak curhat hal semacam itu adalah "Yaudah lah pak, anggep aja sodaqoh. Ntar juga dapet rejeki lain. Udah nggak usah nggersulo (ngeluh) lagi."

Back to topic, haah entahlah. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Haruskah aku terus mengejar mimpiku? Aataukah aku harus realistis pada kehidupan yang juga berarti aku harus menyerahkan mimpiku tenggelam dalam-dalam... Entahlah pak, bu... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tabunganku pun habis, dan sedikit demi sedikit semangat dalam hatiku pun meredup setiap kali memikirkan that life fucks us everytime. Entahlah pak, bu, doakan saja anakmu ini...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment